Petani di Fukushima Jepang menciptakan plastik ramah lingkungan yang berasal dari beras yang tidak dapat dikonsumsi

Penyunting: Irwan Manjalo

Halo sobat Nebtovers. Jepang lagi dan lagi membuat inovasi yang sangat bermanfaat dan ramah lingkungan. Bagaimana tidak, Sejumlah petani di Jepang berpartisipasi dalam usaha mengubah beras yang tidak dapat dikonsumsi menjadi plastik rendah karbon.

Berawal dari peristiwa tragis
PLTN fukushima meledak menyebabkan radiasi yang parah

Seorang petani di wilayah Namie Fukushima,
Jinichi Abe menyaksikan sawahnya kembali produktif untuk pertama kalinya sejak 2011 ketika bencana Fukushima menyebabkan kotanya, Namie, terpapar radiasi yang parah.

Namie masih berjuang untuk pulih dari bencana tahun 2011, ketika tsunami memicu kehancuran di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi. Beberapa bagian dari kota itu terletak hanya empat kilometer dari PLTN itu, dan sekitar 80 persen dari tanah di kota itu saat ini masih dianggap berbahaya. Saat ini, kurang dari 2.000 orang tinggal di kota itu dibandingkan dengan 21.000 sebelum bencana.Namun situasi berubah sejak November 2022, tepatnya sejak pabrik Biomass Resin, dan beberapa perusahaan lain, dioperasikan di sana.

Petani berusia 85 tahun itu sebetulnya merasa miris karena tahu persis bahwa padi yang diproduksi lahan pertaniannya tidak untuk dikonsumsi. Namun, ia juga tak kecil hati, karena ia tidak akan kehilangan pembeli.

Berdiri perusahaan yang mendukung petani
Beras, digabungkan dengan pelet plastik kecil dan dipanaskan serta diremas, diekstrusi dalam batang panjang dan tipis sebelum dipotong menjadi pelet plastik kecil berwarna cokelat di lini pabrik pabrik Resin Biomassa Fukushima di Namie, Jepang 28 Februari 2023. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Sebuah perusahan memastikan akan membeli padinya untuk kemudian diubah menjadi plastik rendah karbon. Perusahaan yang dimaksud Abe adalah Biomass Resin, sebuah perusahaan yang berbasis di Tokyo. Biomass membuka sebuah pabrik di Namie yang fungsinya menggabungkan beras dengan pecahan-pecahan kecil plastik sehingga menghasilkan pelet-pelet plastik rendah karbon.

Pelet-pelet itu, baik yang komposisi bahan berasnya 50 persen atau 70 persen, kemudian dikirim ke perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang-barang plastik di berbagai penjuru Jepang.

Namie sendiri, khususnya dari sawah Abe, menyuplai 55 ton dari 1.700 ton beras yang dibutuhkan Biomass untuk proses produksi. Sisanya sebagian besar berasal dari daerah-daerah lain di Fukushima.

Meskipun plastik tidak dapat terurai secara alami, apa yang dilakukan Biomass berkontribusi positif pada lingkungan. Memanfaatkan beras berarti mengurangi produk minyak bumi, dan menanam lebih banyak padi mengurangi karbondioksida di atmosfer secara keseluruhan. 

Dikutip dari : voaindonesia.com



Artikel terbaru

Tinggalkan komentar